Peran Strategis UMKM

header1-market

Tantangan perekonomian global semakin ketat dimana tren pertumbuhan ekonomi dunia tidak lagi didominasi oleh Eropa dan Amerika Serikat sehingga kekuatan ekonomi negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi mengesankan mulai diperhitungkan seperti BRICS (Brazil, Rusia, China, dan South Africa) dan MINT (Meksiko, Indonesia, Nigeria, dan Turki).

Seiring dengan perekonomian global yang semakin menggeliat maka kawasan ekonomi regional harus mempersiapkan diri jika tidak ingin hanya menjadi penonton dirumah sendiri, oleh karena itu dalam rangka menjaga stabilitas politik dan keamanan regional ASEAN, meningkatkan daya saing kawasan secara keseluruhan di pasar dunia, dan mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan serta meningkatkan standar hidup penduduk Negara Anggota ASEAN, seluruh Negara Anggota ASEAN sepakat untuk segera mewujudkan integrasi ekonomi yang lebih nyata dan bermanfaat yaitu melalui Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Diawali pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-2 tanggal 15 Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan disepakatinya Visi ASEAN 2020, para Kepala Negara ASEAN menegaskan bahwa ASEAN akan:

  • Menciptakan Kawasan Ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki daya saing tinggi yang ditandai dengan arus lalu lintas barang, jasa-jasa dan investasi yang bebas, arus lalu lintas modal yang lebih bebas, pembangunan ekonomi yang merata serta mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi,
  • Mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang jasa, dan
  • Meningkatkan pergerakan tenaga profesional dan jasa lainnya secara bebas di kawasan. Selanjutnya pada beberapa KTT berikutnya (KTT ke-6, ke-7) para pemimpin ASEAN menyepakati berbagai langkah yang tujuannya adalah untuk mewujudkan visi tersebut.

Setelah krisis ekonomi yang melanda khususnya kawasan Asia Tenggara, para Kepala Negara ASEAN pada KTT ASEAN ke-9 di Bali, Indonesia tahun 2003, menyepakati pembentukan komunitas ASEAN (ASEAN Community) dalam bidang Keamanan Politik (ASEAN Political-Security Community), Ekonomi (ASEAN Economic Community), dan Sosial Budaya (ASEAN Socio Culture-Community) dikenal dengan Bali Concord II. Untuk pembentukan ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) pada tahun 2015, ASEAN menyepakati pewujudannya diarahkan pada integrasi ekonomi kawasan yang implementasinya mengacu pada Blueprint Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Untuk mewujudkan MEA tersebut, para Pemimpin Negara ASEAN pada KTT ASEAN ke-13 pada bulan November 2007, di Singapura, menyepakati Blueprint MEA, sebagai acuan seluruh Negara Anggota dalam mengimplementasikan komitmen MEA. Pada tahun 2015, apabila MEA tercapai, maka ASEAN akan menjadi pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal dimana terjadi arus barang, jasa, investasi, dan tenaga terampil yang bebas, serta arus modal yang lebih bebas diantara Negara ASEAN. Dengan terbentuknya pasar tunggal yang bebas tersebut maka akan terbuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan pangsa pasarnya di kawasan ASEAN.

Dalam rangka menghadapi MEA tersebut maka Indonesia harus memiliki persiapan yang matang terutama terkait dengan salah satu pilar perekonomian negara yang berperan besar dalam pertumbuhan ekonomi yaitu UMKM. Berdasarkan data dari Kementerian Negara Koperasi dan UKM per akhir tahun 2012, jumlah UMKM di Indonesia 56,53 juta unit dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto 59,08 persen. Adapun, kontribusi UMKM terhadap penyerapan tenaga kerja sekitar 97,16 persen atau 107 juta orang.

Kontribusi yang begitu besar terhadap penyerapan tenaga kerja tersebut menunjukkan peran strategis UMKM, sehingga SMEs Indonesia Consulting hadir untuk mendukung dan membantu UMKM melalui konsultansi manajemen UMKM dalam hal Business Plan, SOP, Laporan Keuangan, Riset Bisnis dan Pemasaran, serta Pengembangan Website. Hal tersebut sebagaimana tagline dari SMEs Indonesia Consulting yaitu Start Up, Grow Up.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *