Manajemen Risiko UMKM

Risk

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar istilah ‘risiko’. Menurut ISO 31000:2009 Risk Management – Principles and Guidelines, risiko adalah dampak dari ketidakpastian terhadap pencapaian sasaran atau tujuan. Sedangkan menurut COSO ERM – Integrated Framework, risiko adalah kemungkinan terjadinya sebuah event yang dapat mempengaruhi tercapainya sasaran.

Berdasarkan definisi risiko tersebut, terdapat 3 unsur utama risiko, yaitu adanya tujuan / sasaran sebuah kegiatan, adanya ketidakpastian, dan dampak. Yang dimaksud dengan dampak adalah penyimpangan atau deviasi dari tujuan / sasaran yang diharapkan, bisa bersifat positif dan/atau negatif. Ketidakpastian menunjukkan adanya probabilitas / kemungkinan terjadinya suatu event yang mempengaruhi pencapaian tujuan / sasaran.

Secara umum, terdapat dua bentuk risiko, yaitu :

  1. Pure Risk (Risiko Murni), yaitu suatu risiko yang bilamana terjadi akan memberikan kerugian dan apabila tidak terjadi maka tidak menimbulkan kerugian namun juga tidak menimbulkan keuntungan. Risiko ini akibatnya hanya ada 2 macam: rugi atau break event. Contohnya adalah pencurian, kecelakaan atau kebakaran.
  2. Speculative Risk (Risiko Spekulatif), yaitu risiko yang berkaitan dengan terjadinya tiga kemungkinan, yaitu peluang mengalami kerugian, break even atau memperoleh keuntungan. Contohnya adalah dalam kegiatan investasi.

Pada dasarnya, dalam setiap kegiatan yang dilakukan, terdapat risiko yang melekat, misalnya ketika makan atau minum terdapat risiko tersedak, ketika menyeberang jalan terdapat risiko tertabrak kendaraan dan sebagainya. Demikian juga dalam kegiatan bisnis, terdapat berbagai risiko yang mungkin terjadi yang dapat menghambat pencapaian tujuan atau bahkan menimbulkan kerugian apabila risiko-risiko tersebut tidak diidentifikasi dan diantisipasi sejak awal. Oleh karena itu, diperlukan adanya mekanisme kontrol atau pengelolaan atas risiko-risiko yang mungkin terjadi, yaitu dengan menerapkan manajemen risiko dalam kegiatan usaha / bisnis.

Manajemen risiko UMKM adalah proses yang dilakukan untuk mengelola risiko yang melekat pada setiap proses bisnis di setiap bagian dan level dalam perusahaan / organisasi skala UMKM, sehingga mampu memberikan keyakinan tercapainya tujuan dan mengurangi ketidakpastian yang melekat pada suatu proses bisnis yang pada akhirnya akan menciptakan kesempatan atau opportunity secara  lebih sistematis. Menurut ISO 31000 : 2009 Risk Management  – Pronciples and Guidelines, manajemen risiko adalah aktivitas-aktivitas terkoordinasi yang dilakukan dalam rangka mengelola dan mengontrol sebuah organisasi terkait dengan risiko yang dihadapinya. Proses manajemen risiko mencakup proses identifikasi, penilaian, respon / pengendalian, hingga monitoring dan evaluasi risiko di semua kegiatan / proses bisnis.

Prinsip penerapan manajemen risiko UMKM dimulai dari pemahaman bahwa setiap proses bisnis memiliki tujuan yang telah ditetapkan, dimana tujuan utama dalam bisnis tentu adalah untuk mencapai keuntungan, dan setiap tujuan memiliki risiko yang melekat pada setiap proses untuk mencapainya. Masing-masing risiko tersebut harus diidentifikasi, diukur, dan diprioritaskan yang dituangkan dalam sebuah risk register / database risiko sehingga mudah untuk dikelola dan dilakukan penanganan. Kemudian setiap risiko harus dimitigasi atau dikelola sehingga memberikan jaminan tercapainya tujuan dan mengubah risiko menjadi kesempatan (opportunity). Risiko bersifat dinamis, terus berubah seiring dengan perubahan waktu dan situasi / kondisi, sehingga diperlukan adanya monitoring dan evaluasi untuk mengawasi setiap perubahan pada variabel-variabel dan asumsi-asumsi yang mempengaruhi risiko.

Manajemen risiko UMKM dilaksanakan dengan tujuan untuk mengintegrasi aktivitas-aktivitas manajemen dalam mengidentifikasi, menganalisis dan menentukan respon / mitigasi risiko secara formal, konsisten, dan komprehensif. Manajemen risiko melindungi dan menambah nilai bagi organisasi dan stakeholder melalui dukungan terhadap tujuan-tujuan organisasi dengan cara:

  • Menyediakan suatu kerangka kerja bagi suatu organisasi yang memungkinkan pelaksanaan aktivitas di masa depan dengan suatu cara yang konsisten dan terkendali.
  • Memperbaiki pengambilan keputusan, perencanaan, dan pemberian prioritas melalui pemahaman yang komprehensif dan terstruktur terhadap peluang/ancaman aktivitas bisnis.
  • Memberi kontribusi berupa penggunaan/alokasi sumberdaya dan modal yang lebih efisien di dalam organisasi.
  • Mengurangi instabilitas.
  • Mengoptimalkan efisiensi operasional.

Penerapan manajemen risiko UMKM akan memberikan manfaat yang besar dalam aktivitas bisnis, diantaranya adalah :

  • Membantu perusahaan untuk meraih keuntungan yang optimal.
  • Memastikan terpenuhinya pelayanan bagi para stakeholder perusahaan, seperti : keuntungan yang optimal bagi owner perusahaan, kepuasan bagi pelanggan, upah dengan nilai yang memuaskan serta dibayarkan secara rutin dan tepat waktu bagi pegawai, dan lain-lain.
  • Menciptakan nilai ekonomis bagi perusahaan berupa pendapatan yang sifatnya konsisten, tidak fluktuatif.
  • Meningkatkan nilai dan kinerja perusahaan baik dari segi keuangan, operasional maupun sosial.
  • Peningkatan efektifitas organisasi yang akan memperbesar peluang pencapaian tujuan perusahaan sehingga akan meningkatkan value
  • Meningkatkan ketahanan organisasi dengan cara memberikan langkah antisipasi/mitigasi risiko dalam menghadapi risiko-risiko yang dihadapi perusahaan.
  • Menghindari biaya-biaya yang mengejutkan, karena perusahaan mengidentifikasi dan mengelola risiko yang tidak diperlukan, termasuk menghindari biaya dan waktu yang dihabiskan dalam suatu perkara.
  • Mengubah pandangan terhadap risiko menjadi lebih terbuka, ada toleransi terhadap kesalahan tapi tidak terhadap hiding errors. Perubahan pandangan ini memungkinkan perusahaan belajar dari kesalahan masa lalunya untuk terus memperbaiki kinerjanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *